Penemuan 9 Ekor Katak Super Besar atau Katak Raksasa di Sulawesi



Warga Enrekang Sulawesi Seletan di kejutkan atas penemuan 9 ekor katak raksasa, katak-katak tersebut di temukan oleh salah satu warga di kebun salak, ketika dia sedang melakukan pengawasan.

Dari ulasan warga, memang di Desa Buntu terdapat banyak katak yang memiliki ukuran super besar, ini bukan pertama kalinya warga menemukan katak dengan berat yang hampir sama, tapi penemuan tersebut lantas menggegerkan warga sekitar, karena memang penemuan ini sangat jarang terjadi lantaran sedikitnya jumlah katak tersebut, apalagi yang di temukan sekarang berjumlah 9 ekor.

Setelah di timbang ternyata berat katak tersebut mencapai 1,5 kg, atau sebesar ayam, bukan cuma ukuran yang bikin mereka kagum namun dari umur nya, katak yang di temukan terbilang cukup tua yaitu sekitar 5 tahun lebih. Dosen Biologi dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Makassar, Muh Rizaldi menjelaskan penemuan tersebut tidak di sengaja, lantaran temannya yang saat itu sedang mengecek kebun, pada malam hari, tiba-tiba di kejutkan kemunculan 9 ekor katak ini.

Jenis dari katak tersebut masih belum bisa di pastikan, namun beberapa pakar menyebut bahwa katak yang di temukan warga Enrekang merupakan keluarga dari spesies Limnonectes Grunniens, akan tetapi kebanyakan jenisnya hanya memiliki ukuran yang kecil. Untuk wilayah penyebarannya terdapat di Sulawesi, Maluku dan Papua.

Sebenarnya warga sudah mengetahui keberadaan katak tersebut, namun mereka memutuskan untuk melindunginya, karena hingga saat ini katak dari Desa Buntu tersebut mengalami penurunan jumlah dan hampir punah, di karenakan hilangnya habitat mereka, atau perburuan manusia di tambah dengan siklus berkembang biak dari hewan ini, lantaran dari 1000 telur, hanya beberapa ekor yang bisa mencapai ukuran jumbo. Warga sering melihat katak-katak ini bergerombol di hilir sungai Desa Buntu, karena mungkin disana adalah tempat favorit bagi katak.

Katak dari Enrekang ini ternyata bisa di konsumsi, dulu warga sering memburunya untuk di makan, tapi sekarang mereka mulai meninggalkan kebiasaan tersebut, penduduk desa sepakat untuk melindungi dan tidak memburunya lagi.
Tunggu