Kehidupan Mahasiswa, Berfikirnya Intelektual Tapi Hatinya Individual

Mahasiswa yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa ternyata mereka tidak peduli pada orang lain, mereka lebih suka dengan gaya kehidupan yang tidak menjamin masa depan.

Mereka memilih kehidupan yang hanya bisa membuat dirinya senang tanpa peduli orang lain, bahkan rela mengorbankan temannya hanya karena sebuah nilai, dimana nilai tersebut belum tentu menjamin kesuksesan mereka.

Individualisme merupakan patokan hidup, hal tersebutlah yang membuat mereka akan sulit untuk mencapai kesuksesannya.

Berbeda dengan para aktivis yang selalu berusaha kritis pada pemerintah atau para mahasiswa yang mengejar impiannya, mahasiswa yang hanya mencari tittle sarjana itu ibarat kacang yang tidak berisi, mereka mungkin lebih pintar dari orang awam tapi dari segi kehidupan mereka layaknya binatang buas yang tidak tahu norma.

Pengalaman penulis yang sedang menempuh kuliah pada semester 10 di kota Semarang, pasti kalian sudah tidak asing lagi dengan kampus saya, kampusnya itu berada di dekat laut, kampus yang sudah tergolong tua ini sangatlah bagus serta selalu mengikuti perkembangan jaman.

Namun saya tidak pernah menyangka jika di sini ada mahasiswa yang hanya memikirkan dirinya sendiri, padahal beberapa program dari kampus itu mengutamakan kerja kelompok, yang bertujuan supaya mereka bisa lebih tahu tentang teamwork.

Waktu itu ada program KKU dari kampus, di mana mahasiswa secara berkelompok yang terdiri dari 6 orang, diberi tugas untuk menjual produk dari perusahaan, kita melakukan survey secara kelompok dan melakukan iuran juga secara kelompok, tapi pembuatan makalah hanya di kerjakan oleh satu orang saja, itu juga karena permintaannya sendiri, setelah semua tugas selasai akhirnya kita melaksanakan ujian KKU.

Sebelum ujian mereka tidak ada yang memberi informasi sedikitpun ke saya, bahkan saya sampai beberapa kali bertanya untuk memastikan jadwalnya, yang lebih parah ketika mereka sudah masuk ke ruangan ujian, tidak ada dari mereka yang mencoba menghubungi anggotanya padahal waktu itu anggotanya belum lengkap.

Berbeda dengan kelompok lain sebelum mereka masuk ke ruangan ujian, mereka terlebih dahulu memastikan semua anggotanya sudah lengkap. Disini yang menjadi masalah bagi saya adalah tidak tahu jika ujian KKU harus menggunakan baju hitam dan putih, jadwal saja tidak di kasih tahu oleh kelompok apalagi tentang prasyaratnya, yang pasti mereka lebih tidak peduli.

Sebelumnya saya sudah pastikan memang tidak ada informasi apapun dari kelompok, mereka tiba-tiba sudah masuk ke ruangan,  berarti saya sudah di tinggal ujian KKU, waktu itu saya berencana untuk balik ke kos mengambil baju hitam-putih tapi jarak ke kos sangat jauh, hampir perbatasan dengan kota Demak, kalau perjalanan mungkin perlu waktu sekitar 40 menit dari kampus belum ditambah waktu untuk balik kekampus lagi.

Sedangkan jika saya ingin meminjam baju setidaknya harus menunggu teman yang sudah ikut ujian di ruangan lain berarti sama saja dengan menunggu kelompok saya sampai selesai ujian, sebenarnya hal ini bisa di cegah jika kelompok mengkoordinasi anggotanya sebelum ikut ujian, namun kenyataannya mereka tidak peduli pada anggotanya.

Pada akhirnya penulis tidak bisa ikut ujian KKU, ketika melayangkan protes kepada kelompok, mereka menilai semuanya kesalahan pribadi penulis.

Saya sempat bertanya kepada kelompok lain mereka menyuruh saya untuk protes, menurut mereka ujian KKU itu berbeda dengan Ujian Semester, jika kemarin itu Ujian Semester ada peserta yang tidak membawa prasyarat, memang itu kesalahan dirinya karena Ujian Semester merupakan tugas individu

Tapi kalau KKU jika sampai ada anggotanya tidak mendapat informasi dan meninggalkannya waktu ujian, seharusnya kelompok bisa bertanggung jawab.

Pada akhirnya saya protes ke dosen dengan alasan yang sama seperti yang di suruh oleh kelompok lain, para dosen juga mengatakan, karena inti dari KKU adalah kerja secara berkelompok, surveynya berkelompok, tugas berkelompok, berarti ujiannya juga harus berkelompok.

Kalau memang ingin secara individu, sebaiknya tidak usah mengerjakan KKU, daripada salah satu anggotanya harus di tinggal, padahal anggota tersebut sudah susah payah ikut KKU tapi tidak mendapat nilai, itupun masih di suruh ikut survey kelompok, padahal kelompok tersebut tidak menerapkan prinsip kerja kelompok.

Kalau seperti ini saya harus menanggung kerugian yang lebih banyak, bahkan karena sifat keegoisan mereka, terpaksa saya harus mengulang satu semester lagi.

Apa daya bagi saya yang kuliah hanya menggunakan uang sendiri, bahkan sebisa mungkin uang dari hasil kerja sebagian untuk membantu melunasi hutang orang tua.

Mereka merasa lebih susah dari saya, tapi kenyataannya saya mempunyai masalah yang begitu rumit, itupun menyangkut biaya kuliah dan biaya hidup di Semarang  yang selama ini saya dapatkan dari hasil kerja.

Cerita di atas merupakan sebuah pengalaman pribadi penulis, untuk kebenarannya kalian bisa menilai sendiri, apakah penulis yang salah atau kelompoknya yang salah.

Tapi sifat individualisme merupakan sifat yang akan mempersulit orang tersebut bisa sukses, apalagi ternyata banyak mahasiswa yang masih menerapkannya, tidak adanya kepedulian terhadap orang lain dan ingin selalu mendapatkan manisnya saja, merupakan sifat alami dari para koruptor.

Jadi apakah generasi mahasiswa selanjutnya merupakan generasi koruptor atau menjadi orang sukses yang membuat bangga negara ini, kita nantikan saja semoga mereka tidak menambah daftar sarjana pengangguran.
Share:

Artikel Lainnya

Memuat...