Teror Jalan Angker di Desaku

Beberapa kali aku membaca cerita horor, tapi kebanyakan cerita yang berhubungan dengan jalanan, sering melibatkan kota-kota besar, seperti kisah jalan angker di Bandung, jalan angker di Jakarta atau tikungan angker tol Cipali.


Menurutku cerita tersebut terlalu mainstream, karena topik utama yang sering keluar adalah kisah kecelakaan dan penampakan kuntilanak. Berhubung didesaku juga ada, aku mau berbagi ceritanya kepada kalian.

Malam itu aku melakukan kegiatan rutinitas yaitu nongkrong bersama teman, ketika kumpul seperri ini kami selalu memainkan kartu, permainan yang cukup asyik hingga bisa membuat kami lupa waktu.

Jam 1 malam, pemilik warkop terbangun lalu menyuruh kami untuk pulang, kami semua langsung bergegas membereskan permainan, kasihan juga melhat pemilik warkop ditengah malam begini, harus terbangun dari tidurnya.

Kami yang berjumlah lima orang, berpisah di pertigaan desa, nah 3 orang itu tetap lurus menuju kedesa sebelah, sedangkan aku berdua dengan Jamroni berbelok keutara.

Awalnya kami berpikir positif lantaran di jalan arah menuju kedesa itu ada warkop juga, tapi sialnya malam ini warkop itu sudah tutup, padahal setiap hari warkopnya buka sampai pagi.

Perjalanan tetap kami lanjutkan dan akhirnya kami sampai di jalan angker, ketika aku memasuki jalanan tersebut terasa sekali bulu kudukku berdiri, begitupun Jamroni dia mengalami nasib yang sama denganku.

Firasat buruk mulai menggelora dihati, aku tahu dibalik sana ada sesuatu yang mengintai kami, tapi aku mencoba tetap tenang supaya aku bisa mengendarai motornya.

Aku mendengar suara **sreet sreet sreett** seperti daun pisang yang diseret, Jamroni yang juga mendengarnya mencoba mencari sumber suara itu, tapi dia tidak menemukan sesuatu.

Aku tetap berusaha fokus kedepan, tapi samar-samar dari sinar lampu motorku, aku melihat sosok putih yang sedang berdiri dikanan jalan. Aku yang mulai ketakutan tidak bisa mengontrol motorku lagi, aku berjalan meliuk-liuk layaknya pengendara yang mengantuk.

Aku terus memeperhatikan sosok putih tadi, ketika hampir sampai pada posisi mahkluk itu motorku yang normal menjadi sangat berat, aku merasa motor ini sebentar lagi akan mati.

Benar saja motorku mulai meredup layaknya motor yang kehabisan bensin, tapi tiba-tiba ada suara **duooooor** , aku yang mengemudikan motornya terperanjat dan hampir terjungkal.

Ternyata ban motorku meledak, tapi Jamroni yang dari tadi diam akhirnya berbicara kepadaku untuk tetap mengemudikannya. Aku meneruti perkataan Jamroni, sampai akhirnya kami melewati sosok putih yang berdiri tadi, dengan ban motor yang meledak kami terpaksa melewatinya dengan sangat pelan, aku yang penasaran mencoba menengok.

Aku lihat mukanya hancur dan tidak berbentuk wajah lagi, apalagi seluruh mukanya penuh dengan borok, Jamroni hanya bisa pasrah dibelakang sambil menutup matanya, dalam posisi tersebut aku harus tetap sadar.

Keesokan harinya aku bercerita kepemilik warung kopi yang berada disekitar jalan angker.

Aku         : pak, tadi malam, kok gak buka
Pak Kopi : Aku buka iya mas, tapi cuma sampai jam 11
Aku         : lha kenapa pak, tadi malam aku habis diteror hantu
Pak Kopi : Dijalan angker itu?
Aku         : he'eh
Pak Kopi : Owalah, tadi malam, kami semua yang berada disini, mendengar suara tangisan cewek, makanya pada langsung pulang. Katanya jika ada suara tangisan, berarti si penunggu sedang mencari tumbal.

Aku berpikir sejenak, seandainya tadi malam ban motorku tidak bocor, apakah aku dan Jamroni akan menjadi tumbal, karena otomatis aku dakan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
Share:

Cerita Bertemu Hantu Kuntilanak di Hutan

Salam semuanya.. aku mau berbagi cerita tentang pengalamanku yang cukup seram, mungkin bagi kalian yang sudah terbiasa dengan horor akan menganggap pengalamanku ini biasa saja, jadi jangan diprotes iya, langsung saja simak ceritaku dibawah ini.


Aku ingat kejadinnya itu pada tahun 2015, waktu itu aku berencana mencari burung puyuh bersama teman-temanku, sebut saja mereka Joyo dan Suryo, jadi kami ini berjumlah 3 orang.

Sekitar jam 7 malam, kami berkumpul di rumah Joyo, setelah semuanya sudah siap kami langsung berangkat ke lokasi, perlu kalian tahu kami cuma menggunakan satu motor saja. Jarak lokasi dengan desa kami sebenarnya cukup dekat, tapi karena medan yang sulit, apalagi harus melawati hutan terlebih dahulu, maka perjalanan kami menjadi cukup lama.

Ketika sampai dilokasi kami juga harus berpencar, karena untuk mencari burung puyuh kami tidak bisa saling berdekatan, jadi kami membagi posisi arah, Joyo ketimur, Suryo kebarat dan aku lurus (ke selatan).

Kalau sudah berpencar nuansa horornya terasa sekali, namun sekarang aku hanya bisa fokus pada senter yang kuarahkan kerumput-rumput, mungkin saja ada pergerakan dari hewan bertubuh mungil itu.

Baru beberapa langkah saja, aku sudah berhasil menangkap satu ekor burung, sungguh beruntungnya aku, lalu aku lanjut lagi kepetak sawah berikutnya, begitu terus sampai akhirnya aku dapat 20 ekor.

Aku coba melihat jam tangan, ternyata hampir jam 11 malam, kini waktunya aku untuk segera kembali, mungkin yang lain sudah menungguku, di tengah perjalanan, tiba-tiba tepat diatasku muncul sesuatu yang terbang dan berwarna putih.

Aku tidak bisa memastikannya, tapi apapun itu sekarang telah berhenti disebuah pohon mangga yang berada tepat didepanku, lantas aku coba mengarahkan senter kesana, tapi benda itu terbang lagi, karena penasaran kuawasi terus kemana perginya, tapi saat benda itu berhenti dipohon yang lain, ada suara gemuruh **krosakkk**

Aku kaget ternyata ada batang pohon yang mengarah kesini, reflek saja aku berlari mundur kebelakang, aku penasaran siapa yang melempar, dari kejauhan aku lihat si Joyo senyum cengingisan.

Joyo : Ngapain kamu disitu??
Aku  : Aku, sedang mengawasi benda putih diatasmu
Joyo : Owalah, itu cuma burung hantu

Aku hanya bisa tertawa mendengarnya, benda putih yang aku kejar tadi, ternyata hanya seekor burung. Aku dan Joyo langsung bergegas kembali ketempat kami menaruh motor, disana ternyata sudah ada Suryo.

Tapi ada yang aneh, Suryo terus melambaikan tangannya pertanda menyuruh kami untuk segera kesana, karena kami sudah capek kami hanya bisa jalan pelan saja.

Akhirnya kami berkumpul, tapi kok aku perhatikan muka Suryo berubah menjadi tegang, dalam raut wajahnya terlihat jelas dia sangat ketakutan, lantas aku tanya apa yang terjadi dengan dia.

Aku   : Kamu kok kelihatan ketakutan gitu?
Suryo : Kamu nggak lihat putih2 diatasmu tadi

Lantas aku dan Joyo tertawa mendengar itu, karena tahu yang diatas kami adalah burung hantu, mendengar itu si Suryo akhirnya membaik, lalu kami pun menghitung tangkapan kami, ternyata semuanya mendapat tangkapan lumayan banyak.

Ketika kami mau pergi, burung hantu yang kami lihat tadi bertengger diatas pohon asem yang berada dekat dengan kami, lalu si Joyo ngomong ke Suryo, kalau burung hantu itu yang menyebabkan dia ketakutan, lantas dia nantangin suryo untuk lempar pakai kayu.

Karena si Suryo masih dendam, dia langsung ambil kayu dan di lempar ke burung tersebut, seperti biasa burung itu terbang lagi, tapi ketika kami asyik melihat burung itu pergi, tiba-tiba ada sebongkah kayu jatuh hampir mengenai si Suryo.

Kami sangat bingung, darimana kayu itu berasal, apalagi kayu yang hampir mengenai Suryo mirip dengan kayu yang dilempar Joyo tadi, waktu kami masih bingung dengan kejadian itu, muncullah suara ketawa khas cewek muda, suaranya agak jauh tapi terdengar sangat jelas.

Firasatku mengatakan pasti ini sesuatu yang tidak beres, aku segara menyalakan motornya dan menyuruh yang lain untuk naik, benar saja belum sempat aku menjalankan motor dari arah depan kami, ada wanita bergaun putih terbang mendekat.

Aku langsung membelokkan motornya untuk menghindari wanita itu, tapi sayangnya motor ini dinaikin oleh tiga orang, jadi sangat susah untuk menyeimbangkannya, untung kami tidak terjatuh.

Kuntilanak itu seolah tidak rela kami pergi meninggalkannya, dia terus terbang megikuti kami dari belakang. Si Suryo yang berada di jok belakang tak kuasa menahan ketakutan, sesekali dia melirik kuntilanak tersebut, Sedangkan Si Joyo dengan tenang menutup matanya karena dia dalam posisi yang sangat nyaman.

Si Suryo terus mengawasi kuntilanak tersebut, sampai akhirnya kuntilanak itu menghilang, karena tanganku sudah kaku, aku lantas berhenti untuk pindah posisi dengan Joyo.

Tidak lama kemudian suara tertawa mulai terdengar lagi, dengan gesit Joyo langsung menjalankan motornya, kini posisiku yang ada di jok belakang, sesekali aku coba melirik kebelakang.

Meskipun aku tidak melihat apapun tapi suara kuntilanak itu masih ada, kini Si Joyo yang menjerit-jerit, katanya kuntilanak itu sedang berdiri disamping jalan didepan kami, akupun coba menengok kedepan, memang saya lihat mahkluk itu berdiri persis dikiri jalan.

Ketika melawati kuntilanak itu, saya mendengar Si Joyo melafalkan mantra apapun yang dia bisa, saya tahu dia pasti sangat ketakutan, sedangkan aku dan Suryo terus menyemangatinya.

Aku memejamkan mata begitupun dengan Suryo yang berada ditengah, tapi kami tidak lupa untuk membuat Joyo terus berusaha menyeimbangkan motornya, aku percaya dia pasti bisa menyelamatkan kami berdua dari teror ini.

Hutan telah kami lalui, suara dan tanda keberadaan kuntilanak tersebut sudah tidak ada lagi, kami akhirnya berhenti di salah satu rumah warga yang kebetulan ada banyak orangnya, lantas kami menceritakan semua kejadian tadi, eh bukannya prihatin justru kami diketawain.
Share:

Pengalaman Seram Saat Memancing

Perkenalkan nama saya Indra, saya dari salah satu kota di jawa tengah, mungkin kalian sudah tahu dengan julukan kota saya, yaitu alas jati (hutan jati).


Seperti biasanya ketika pagi hari teman saya sebut saja Joni, itu selalu kerumah saya, entah dia ingin bermain atau apapun yang dituju pasti rumah saya.

Kami selalu membicarakan sesuatu yang tidak jelas, tapi hari itu Joni memiliki ide yang cukup menyenangkan, dia mengajak saya untuk memancing, apalagi musim ini adalah musim hujan, disungai pasti banyak ikannya.

Joni juga bilang jika tadi malam ada tetangganya habis nyari belut, katanya sih tetangganya itu dapat satu karung, tapi bukan karung yang besar, karung yang dipakai itu berukuran kecil, kurang lebih seukuran kresek hitam untuk membuang sampah.

Jujur saja, saya menjadi lebih bersemangat setelah mendengar cerita dari Joni, dalam pikiran saya jika kami bisa mendapat belut sebanyak itu dan menjualnya pasti akan mendapat uang yang lumayan banyak, maklum karena kami hidup didesa, salah satu cara kami mencari penghasilan iya seperti itu.

Setelah itu saya dan Joni langsung mempersiapkan semua peralatan untuk bekal nanti malam, termasuk alat pancing, obor dan berang (senjata tajam), gunanya berang itu untuk menebas belut karena belut merupakan binatang yang sulit ditangkap menggunakan tangan.

Waktu yang dinanti akhirnya tiba, sekitar jam 7 malam, kami berangkat ke sungai. Perjalanan kami tidaklah semulus yang kalian bayangkan, karena sebelum sampai kesungai kami setidaknya harus melewati hutan jati, kurang lebih jaraknya itu sekitar 2 kilometer, lalu kami juga harus melewati persawahan, tapi jalan di persawahan ini tidak bisa dilalui oleh motor.

Terpaksa motornya kami tinggal di seberang hutan jati, disana saya langsung menyalakan obor, sedangkan si Joni berinisiatif untuk membungkus motornya dengan dedaunan, mungkin supaya tidak terlihat oleh maling.

Hari ini kami sungguh beruntung karena tidak hujan, ketika melawati persawahan terdengar suara kodok saling bersahutan seolah olah mereka menyambut kami, memang dipersawahan adanya cuma kodok doang, tanpa mereka disini sangat sepi.

Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami sampai di sungai, disana kami langsung mempersiapkan semua pancingan, seluruh pancing yang berjumlah 10 kami pasang secara berjajar, namun ketika saya sedang sibuk memasangnya, dari kejauhan terlihat ada orang yang berniat untuk mencari belut juga, perkiraaan mereka itu berjumlah sekitar 2-3 orang dengan membawa dua obor.

Saya menyarankan Joni untuk menuju kearah barat saja, karena orang-orang tadi yang membawa obor, pasti akan mencari belut dari arah timur, awalnya Joni keberatan, karena kearah barat berarti menuju kehutan, hutan itu tidak seperti hutan jati yang telah kami lewati, konon hutan itu merupakan pusat alam ghoib diwilayah sini.

Tapi orang dari arah timur pasti akan menuju kearah barat atau ke posisi kami, makanya kami tidak mungkin untuk mengarah ketimur, sedangkan diarah timur itu merupakan sungai yang penuh dengan bebatuan dan tidak mungkin bisa menemukan belut.

Dipinggiran sungai terlihat belut yang sedang keluar dari lubangnya, lantas kami menebas setiap belut yang kami lihat, cukup lumayan belut setengah ember sudah kami dapatkan.

Kami akhirnya memasuki hutan, disini suananya sangat berbeda, apalagi rasa dingin yang kami rasakan seolah menyuruh kami untuk segera meninggalkan hutan ini.

Samar-samar dari dalam hutan kami mendengar suara seperti geraman, hampir mirip dengan suara harimau mendengkur. Joni yang sudah ketakutan mengajak saya untuk segera keluar.

Karena hasil belut juga sudah lumayan banyak, saya setuju dengan ajakan Joni untuk keluar, lalu kami berjalan pelan meninggalkan hutan, sesekali saya menoleh kebelakang, dari kejauhan terlihat ada satu pohon diseberang sungai bergerak-gerak sendiri seolah ada yang memanjatnya.

Waktu itu saya sudah merasa ketakutan, langsung saja saya memalingkan wajah kedepan, saya juga tidak mau bilang ke Joni karena bisa saja dia akan kabur, eh, si Joni bukannya menghadap lurus kedepan, dia justru menengok kebelakang.

Saya lihat muka Joni sudah mulai berubah dengan ekspresi keheranan, saya tahu kalau dia pasti ketakutan, seketika itu dia menghadap kedepan lagi, dia menceritakan apa yang dia lihat barusan, pohon yang bergerak dibelakang tadi, ternyata diatasnya ada segerombolan monyet liar.

Lega rasanya mendengar perkataan Joni, ternyata hanya monyet yang sedang mencari tempat tidur, lalu kami lanjut berjalan menuju tempat kami memasang pancingan, saya berharap mendapatkan beberapa ikan untuk kami bakar karena belut yang kami tangkap semuanya akan kami jual.

Dari arah timur terlihat ada obor, kemungkinan itu merupakan milik pencari belut yang saya lihat tadi, kehadiran mereka membuat saya menjadi lebih tenang.

Ketika saya sedang membereskan pancingan, Joni menepuk pundak saya dan menunjuk kearah obor tadi, dia bilang ada yang aneh dengan obornya, karena obor itu hanya berputar putar disekitar sana, jika dilihat pergerakan obornya memang berbeda dengan pencari belut yang cenderung naik turun.

Saya hanya bengong melihat kejadian itu, apalagi semakin lama kami memandangnya semakin besar ukuran apinya. Kejadian janggal itu membuat kami berpikir untuk segera meninggalkan pancingan.

Belum sempat saya mengambil ember berisi belut, Joni yang dari tadi mengawasi obor itu tiba-tiba berteriak untuk segera lari, saya reflek menengok kearah obor tadi, saya masih tidak percaya dengan apa yang saya lihat.

Obor yang hanya sebesar bola tenis, sekarang telah berubah menjadi kobaran api yang sangat besar, di permukaan api itu timbul dua pasang mata dengan senyum yang menyeringai. Ketika saya masih bengong, Joni berusaha menyadarkan dengan menarik lengan saya.

Entah berapa lama saya melamun, tapi tiba-tiba api itu sudah berada sekitar 10 meteran dari posisi saya, wujudnya terlihat sangat jelas, sebuah api yang membara dengan wajah yang menyeramkan terbang kesini.

Saya yang sudah sadar, segera mengambil langkah untuk lari, begitupun dengan Joni dia persis mengikuti di belakang, tapi sayangnya api itu juga mengejar kami, jalan yang sempit membuat kami kesusahan untuk melangkah, entah apa yang akan terjadi jika kami terpleset disini.

Kami terus berlari menuju kehutan jati, sialnya dari hutan itu juga terlihat obor yang sedang menyala, saya sudah tidak bisa berpikir lagi, dari belakang kami dikejar api yang membara, sedangkan didepan ada anakan api yang menanti kami.

Saya tetap berlari menuju kearah hutan, karena menurut saya lebih baik bertemu dengan api yang kecil daripada harus mencari jalan lain, medan dipersawahan itu sangat sulit, jika kami berputar arah maka kami akan mendapat jalur yang lebih sulit dari ini.

Api membara itu terus mengejar kami, gerakannya sangat stabil karena benda itu berlari tidak terlalu cepat dan tidak terlalu pelan. sedangkan dari arah hutan muncul satu api kecil lagi.

Sekarang jumlahnya ada dua, benda itu bergerak pelan dan saling berganti posisi, ketika kami sudah dekat, dua api itu seolah menjauhi kami, keduanya terbang menuju kedesa. Lantas kami mengikuti mereka, kami harus terus berlari, motor yang kami parkir disini tidak kami hiraukan lagi.

Ujung hutan sudah terlihat, pertanda sebentar lagi kami akan sampai didesa, dua api yang kami lihat tadi ternyata berhenti disana, posisinya tepat berada diseberang rumah warga, pantulan sinar lampu dari rumah tersebut memperlihatkan siluet manusia yang berjumlah 3 orang.

Tidak kusangka mereka adalah warga desa juga, namanya pak Warsito, pak Naim dan Pak Toha, dengan muka ketakutan mereka menyuruh kami untuk segera berlari kesana.

Saya yang sudah tidak punya tenaga lagi, terus memaksa tubuh ini untuk berlari, akhirnya saya bisa sampai dan bertemu dengan mereka. Duh, lega rasanya bisa sampai kesini, saya mencoba mencari api yang berada dibelakang namun benda itu sudah hilang.

Pak Warsito yang melihat kami sudah sangat kelelahan, lalu mengajak kami untuk mampir kewarung kopi, dia mulai bercerita kenapa mereka bisa berada disana.

Mereka adalah orang yang saya lihat membawa dua obor dari ujung timur sungai, sebenarnya mereka juga melihat kami, tapi waktu itu mereka melihat ada 3 obor, dua obor saya dan Joni yang bawa, sedangkan satu obor ada dibalik pohon bambu.

Awalnya mereka tidak curiga, tapi setelah mereka sampai didekat posisi awal kami memasang pancing, Pak Toha melihat ada yang aneh dengan api dibalik pohon bambu, karena daritadi apinya itu hanya berputar-putar saja.

Nah, setelah melihat kejanggalan itu pak Toha mengusulkan untuk segera pulang, ketika sampai dihutan jati Pak Naim melihat ada motor kami, lantas dia bilang ke yang lain untuk menunggu kami.

Lalu waktu kami berlarian ditengah sawah, mereka menyalakan obor sebagai pertanda diarah itu ada orangnya, mereka juga melihat api yang mengejar kami, ukurannya sangat besar bahkan kami berdua bisa jadi cemilan.

Anehnya waktu dihutan jati, api itu hanya menembus apapun yang dilewati tanpa membakarnya, namun setelah berada di tengah-tengah hutan apinya menghilang, cara menghilangnya juga bukan secara mendadak tapi mengecil terlebih dahulu sampai seukuran lilin.

Kami ditawari untuk mengambil motor oleh pak Warsito, tapi Joni langsung menolaknya, mungkin dia masih trauma, mending motornya diambil besok saja, yang terpenting sekarang ini kami bisa selamat.
Share:

Menjaga Kuburan Orang Mati Hari Jumat Legi

Mitosnya ketika seseorang meninggal pada hari-hari tertentu apalagi pada hari jumat legi itu makamnya harus dijaga, lamanya penjagaan juga tergantung, bisa 7 hari sampai 40 hari.

Gambar hanya pemanis :)
Mungkin dari kalian ada yang belum tahu hari jumat legi itu hari apa, kurang lebihnya itu merupakan istilah penanggalan dari jawa yang digunakan untuk menyebut tanggal perputaran bulan, kalau mau tahu arti yang lengkap silahkan baca link dibawah ini.

Ditanah Jawa mitos orang mati pada hari jumat legi merupakan salah satu mitos yang paling banyak dipercaya, bahkan disetiap daerah memiliki cerita yang berbeda, meskipun ceritanya berbeda tapi inti mitos tetap sama.

Konon disetiap bagian kuburan dan mayat itu sendiri bisa di gunakan untuk mendalami ilmu hitam, mulai dari tanah kuburan, tali pocong, nisan kayu, dan tanah untuk bantalan mayat.

Tapi itu semua juga tergantung wilayah, kalau disana banyak penganut ilmu hitam, bisa jadi syaratnya lebih berat, saya pernah dengar di wilayah bagian timur jawa ada yang sampai mengambil ibu jari kaki dengan cara menggigitnya, ritualnya ekstrem sekali kan!? hmmm, bayangkan jika kuburan itu tidak dijaga pasti akan dirusak oleh mereka.

Nah, diatas adalah penjelasan sedikit soal hari jumat legi, sekarang saya akan menceritakan sesuatu, awalanya saya tidak menyangka akan memiliki cerita menyeramkan apalagi yang berhubungan dengan hari jumat legi.

Malam itu saya mendapat kabar duka dikarenakan kakek saya meninggal sekitar jam 02.30 pagi pada hari jumat.

Pemakaman akhirnya selesai sekitar jam 08.00 lebih, setelah itu saya berkumpul dirumah kakek, perlu diketahui kakek saya itu hanya tinggal bersama nenek dan pak lek (om).

Suasana kesedihan berubah menjadi sangat mencekam ketika sesepuh di desa, bercerita tentang kematian kakek, dimana hari kematiaannya itu merupakan hari jumat legi.


Dari cerita beliau ternyata dulu pernah terjadi kasus pembongkaran kuburan. Mungkin karena trauma, beliau sampai mengingatkan kami dengan tegas, jika malam ini sampai 7 hari berikutnya kami harus menjaga kuburan itu.

Demi mencegah hal buruk terjadi, kami semua sepakat untuk menjaga kuburan kakek, lalu dipilihlah kandidat yang tepat untuk menjalankan tugas itu, ternyata Kebanyakan kerabat lain hanya bisa menjaga sampai jam tertentu saja, jadi kandidat yang terpilih akan menjaga sampai waktu subuh.

Kandidat pertama adalah saya, waktu itu umur 17 tahun, baru lulus SMA, masih pengangguran. Kandidat kedua adalah kakak, hanya seorang guru sekaligus petani musiman. Kandidat ketiga sekaligus yang terakhir adalah Pak Lek (om), dia terpilih karena merupakan anak kakek yang tinggalnya paling dekat soalnya dia masih serumah, kebetulan semua anak kakek itu berada diluar kota.

Kalau bicara dunia supranatural jangan ditanya, kami sebagai kandidat terpilih, seumur hidup belum pernah melihat hantu, jadilah malam itu merupakan awal dari teror tersadis yang pernah kami alami.

Waktu menunjukan pukul 20.00 malam, dengan hanya berbekal senter, kopi & cemilan, kami bersama kerabat lain bersiap untuk menuju kekuburan, kalau saya hitung jumlahnya ada 7 orang, tapi yang lainnya akan pulang jika sudah jam 10 malam.
Share:

Artikel Lainnya

Memuat...