Pengalaman Seram Saat Memancing

Perkenalkan nama saya Indra, saya dari salah satu kota di jawa tengah, mungkin kalian sudah tahu dengan julukan kota saya, yaitu alas jati (hutan jati).


Seperti biasanya ketika pagi hari teman saya sebut saja Joni, itu selalu kerumah saya, entah dia ingin bermain atau apapun yang dituju pasti rumah saya.

Kami selalu membicarakan sesuatu yang tidak jelas, tapi hari itu Joni memiliki ide yang cukup menyenangkan, dia mengajak saya untuk memancing, apalagi musim ini adalah musim hujan, disungai pasti banyak ikannya.

Joni juga bilang jika tadi malam ada tetangganya habis nyari belut, katanya sih tetangganya itu dapat satu karung, tapi bukan karung yang besar, karung yang dipakai itu berukuran kecil, kurang lebih seukuran kresek hitam untuk membuang sampah.

Jujur saja, saya menjadi lebih bersemangat setelah mendengar cerita dari Joni, dalam pikiran saya jika kami bisa mendapat belut sebanyak itu dan menjualnya pasti akan mendapat uang yang lumayan banyak, maklum karena kami hidup didesa, salah satu cara kami mencari penghasilan iya seperti itu.

Setelah itu saya dan Joni langsung mempersiapkan semua peralatan untuk bekal nanti malam, termasuk alat pancing, obor dan berang (senjata tajam), gunanya berang itu untuk menebas belut karena belut merupakan binatang yang sulit ditangkap menggunakan tangan.

Waktu yang dinanti akhirnya tiba, sekitar jam 7 malam, kami berangkat ke sungai. Perjalanan kami tidaklah semulus yang kalian bayangkan, karena sebelum sampai kesungai kami setidaknya harus melewati hutan jati, kurang lebih jaraknya itu sekitar 2 kilometer, lalu kami juga harus melewati persawahan, tapi jalan di persawahan ini tidak bisa dilalui oleh motor.

Terpaksa motornya kami tinggal di seberang hutan jati, disana saya langsung menyalakan obor, sedangkan si Joni berinisiatif untuk membungkus motornya dengan dedaunan, mungkin supaya tidak terlihat oleh maling.

Hari ini kami sungguh beruntung karena tidak hujan, ketika melawati persawahan terdengar suara kodok saling bersahutan seolah olah mereka menyambut kami, memang dipersawahan adanya cuma kodok doang, tanpa mereka disini sangat sepi.

Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami sampai di sungai, disana kami langsung mempersiapkan semua pancingan, seluruh pancing yang berjumlah 10 kami pasang secara berjajar, namun ketika saya sedang sibuk memasangnya, dari kejauhan terlihat ada orang yang berniat untuk mencari belut juga, perkiraaan mereka itu berjumlah sekitar 2-3 orang dengan membawa dua obor.

Saya menyarankan Joni untuk menuju kearah barat saja, karena orang-orang tadi yang membawa obor, pasti akan mencari belut dari arah timur, awalnya Joni keberatan, karena kearah barat berarti menuju kehutan, hutan itu tidak seperti hutan jati yang telah kami lewati, konon hutan itu merupakan pusat alam ghoib diwilayah sini.

Tapi orang dari arah timur pasti akan menuju kearah barat atau ke posisi kami, makanya kami tidak mungkin untuk mengarah ketimur, sedangkan diarah timur itu merupakan sungai yang penuh dengan bebatuan dan tidak mungkin bisa menemukan belut.

Dipinggiran sungai terlihat belut yang sedang keluar dari lubangnya, lantas kami menebas setiap belut yang kami lihat, cukup lumayan belut setengah ember sudah kami dapatkan.

Kami akhirnya memasuki hutan, disini suananya sangat berbeda, apalagi rasa dingin yang kami rasakan seolah menyuruh kami untuk segera meninggalkan hutan ini.

Samar-samar dari dalam hutan kami mendengar suara seperti geraman, hampir mirip dengan suara harimau mendengkur. Joni yang sudah ketakutan mengajak saya untuk segera keluar.

Karena hasil belut juga sudah lumayan banyak, saya setuju dengan ajakan Joni untuk keluar, lalu kami berjalan pelan meninggalkan hutan, sesekali saya menoleh kebelakang, dari kejauhan terlihat ada satu pohon diseberang sungai bergerak-gerak sendiri seolah ada yang memanjatnya.

Waktu itu saya sudah merasa ketakutan, langsung saja saya memalingkan wajah kedepan, saya juga tidak mau bilang ke Joni karena bisa saja dia akan kabur, eh, si Joni bukannya menghadap lurus kedepan, dia justru menengok kebelakang.

Saya lihat muka Joni sudah mulai berubah dengan ekspresi keheranan, saya tahu kalau dia pasti ketakutan, seketika itu dia menghadap kedepan lagi, dia menceritakan apa yang dia lihat barusan, pohon yang bergerak dibelakang tadi, ternyata diatasnya ada segerombolan monyet liar.

Lega rasanya mendengar perkataan Joni, ternyata hanya monyet yang sedang mencari tempat tidur, lalu kami lanjut berjalan menuju tempat kami memasang pancingan, saya berharap mendapatkan beberapa ikan untuk kami bakar karena belut yang kami tangkap semuanya akan kami jual.

Dari arah timur terlihat ada obor, kemungkinan itu merupakan milik pencari belut yang saya lihat tadi, kehadiran mereka membuat saya menjadi lebih tenang.

Ketika saya sedang membereskan pancingan, Joni menepuk pundak saya dan menunjuk kearah obor tadi, dia bilang ada yang aneh dengan obornya, karena obor itu hanya berputar putar disekitar sana, jika dilihat pergerakan obornya memang berbeda dengan pencari belut yang cenderung naik turun.

Saya hanya bengong melihat kejadian itu, apalagi semakin lama kami memandangnya semakin besar ukuran apinya. Kejadian janggal itu membuat kami berpikir untuk segera meninggalkan pancingan.

Belum sempat saya mengambil ember berisi belut, Joni yang dari tadi mengawasi obor itu tiba-tiba berteriak untuk segera lari, saya reflek menengok kearah obor tadi, saya masih tidak percaya dengan apa yang saya lihat.

Obor yang hanya sebesar bola tenis, sekarang telah berubah menjadi kobaran api yang sangat besar, di permukaan api itu timbul dua pasang mata dengan senyum yang menyeringai. Ketika saya masih bengong, Joni berusaha menyadarkan dengan menarik lengan saya.

Entah berapa lama saya melamun, tapi tiba-tiba api itu sudah berada sekitar 10 meteran dari posisi saya, wujudnya terlihat sangat jelas, sebuah api yang membara dengan wajah yang menyeramkan terbang kesini.

Saya yang sudah sadar, segera mengambil langkah untuk lari, begitupun dengan Joni dia persis mengikuti di belakang, tapi sayangnya api itu juga mengejar kami, jalan yang sempit membuat kami kesusahan untuk melangkah, entah apa yang akan terjadi jika kami terpleset disini.

Kami terus berlari menuju kehutan jati, sialnya dari hutan itu juga terlihat obor yang sedang menyala, saya sudah tidak bisa berpikir lagi, dari belakang kami dikejar api yang membara, sedangkan didepan ada anakan api yang menanti kami.

Saya tetap berlari menuju kearah hutan, karena menurut saya lebih baik bertemu dengan api yang kecil daripada harus mencari jalan lain, medan dipersawahan itu sangat sulit, jika kami berputar arah maka kami akan mendapat jalur yang lebih sulit dari ini.

Api membara itu terus mengejar kami, gerakannya sangat stabil karena benda itu berlari tidak terlalu cepat dan tidak terlalu pelan. sedangkan dari arah hutan muncul satu api kecil lagi.

Sekarang jumlahnya ada dua, benda itu bergerak pelan dan saling berganti posisi, ketika kami sudah dekat, dua api itu seolah menjauhi kami, keduanya terbang menuju kedesa. Lantas kami mengikuti mereka, kami harus terus berlari, motor yang kami parkir disini tidak kami hiraukan lagi.

Ujung hutan sudah terlihat, pertanda sebentar lagi kami akan sampai didesa, dua api yang kami lihat tadi ternyata berhenti disana, posisinya tepat berada diseberang rumah warga, pantulan sinar lampu dari rumah tersebut memperlihatkan siluet manusia yang berjumlah 3 orang.

Tidak kusangka mereka adalah warga desa juga, namanya pak Warsito, pak Naim dan Pak Toha, dengan muka ketakutan mereka menyuruh kami untuk segera berlari kesana.

Saya yang sudah tidak punya tenaga lagi, terus memaksa tubuh ini untuk berlari, akhirnya saya bisa sampai dan bertemu dengan mereka. Duh, lega rasanya bisa sampai kesini, saya mencoba mencari api yang berada dibelakang namun benda itu sudah hilang.

Pak Warsito yang melihat kami sudah sangat kelelahan, lalu mengajak kami untuk mampir kewarung kopi, dia mulai bercerita kenapa mereka bisa berada disana.

Mereka adalah orang yang saya lihat membawa dua obor dari ujung timur sungai, sebenarnya mereka juga melihat kami, tapi waktu itu mereka melihat ada 3 obor, dua obor saya dan Joni yang bawa, sedangkan satu obor ada dibalik pohon bambu.

Awalnya mereka tidak curiga, tapi setelah mereka sampai didekat posisi awal kami memasang pancing, Pak Toha melihat ada yang aneh dengan api dibalik pohon bambu, karena daritadi apinya itu hanya berputar-putar saja.

Nah, setelah melihat kejanggalan itu pak Toha mengusulkan untuk segera pulang, ketika sampai dihutan jati Pak Naim melihat ada motor kami, lantas dia bilang ke yang lain untuk menunggu kami.

Lalu waktu kami berlarian ditengah sawah, mereka menyalakan obor sebagai pertanda diarah itu ada orangnya, mereka juga melihat api yang mengejar kami, ukurannya sangat besar bahkan kami berdua bisa jadi cemilan.

Anehnya waktu dihutan jati, api itu hanya menembus apapun yang dilewati tanpa membakarnya, namun setelah berada di tengah-tengah hutan apinya menghilang, cara menghilangnya juga bukan secara mendadak tapi mengecil terlebih dahulu sampai seukuran lilin.

Kami ditawari untuk mengambil motor oleh pak Warsito, tapi Joni langsung menolaknya, mungkin dia masih trauma, mending motornya diambil besok saja, yang terpenting sekarang ini kami bisa selamat.
Tunggu