Teror Jalan Angker di Desaku

Beberapa kali aku membaca cerita horor, tapi kebanyakan cerita yang berhubungan dengan jalanan, sering melibatkan kota-kota besar, seperti kisah jalan angker di Bandung, jalan angker di Jakarta atau tikungan angker tol Cipali.


Menurutku cerita tersebut terlalu mainstream, karena topik utama yang sering keluar adalah kisah kecelakaan dan penampakan kuntilanak. Berhubung didesaku juga ada, aku mau berbagi ceritanya kepada kalian.

Malam itu aku melakukan kegiatan rutinitas yaitu nongkrong bersama teman, ketika kumpul seperri ini kami selalu memainkan kartu, permainan yang cukup asyik hingga bisa membuat kami lupa waktu.

Jam 1 malam, pemilik warkop terbangun lalu menyuruh kami untuk pulang, kami semua langsung bergegas membereskan permainan, kasihan juga melhat pemilik warkop ditengah malam begini, harus terbangun dari tidurnya.

Kami yang berjumlah lima orang, berpisah di pertigaan desa, nah 3 orang itu tetap lurus menuju kedesa sebelah, sedangkan aku berdua dengan Jamroni berbelok keutara.

Awalnya kami berpikir positif lantaran di jalan arah menuju kedesa itu ada warkop juga, tapi sialnya malam ini warkop itu sudah tutup, padahal setiap hari warkopnya buka sampai pagi.

Perjalanan tetap kami lanjutkan dan akhirnya kami sampai di jalan angker, ketika aku memasuki jalanan tersebut terasa sekali bulu kudukku berdiri, begitupun Jamroni dia mengalami nasib yang sama denganku.

Firasat buruk mulai menggelora dihati, aku tahu dibalik sana ada sesuatu yang mengintai kami, tapi aku mencoba tetap tenang supaya aku bisa mengendarai motornya.

Aku mendengar suara **sreet sreet sreett** seperti daun pisang yang diseret, Jamroni yang juga mendengarnya mencoba mencari sumber suara itu, tapi dia tidak menemukan sesuatu.

Aku tetap berusaha fokus kedepan, tapi samar-samar dari sinar lampu motorku, aku melihat sosok putih yang sedang berdiri dikanan jalan. Aku yang mulai ketakutan tidak bisa mengontrol motorku lagi, aku berjalan meliuk-liuk layaknya pengendara yang mengantuk.

Aku terus memeperhatikan sosok putih tadi, ketika hampir sampai pada posisi mahkluk itu motorku yang normal menjadi sangat berat, aku merasa motor ini sebentar lagi akan mati.

Benar saja motorku mulai meredup layaknya motor yang kehabisan bensin, tapi tiba-tiba ada suara **duooooor** , aku yang mengemudikan motornya terperanjat dan hampir terjungkal.

Ternyata ban motorku meledak, tapi Jamroni yang dari tadi diam akhirnya berbicara kepadaku untuk tetap mengemudikannya. Aku meneruti perkataan Jamroni, sampai akhirnya kami melewati sosok putih yang berdiri tadi, dengan ban motor yang meledak kami terpaksa melewatinya dengan sangat pelan, aku yang penasaran mencoba menengok.

Aku lihat mukanya hancur dan tidak berbentuk wajah lagi, apalagi seluruh mukanya penuh dengan borok, Jamroni hanya bisa pasrah dibelakang sambil menutup matanya, dalam posisi tersebut aku harus tetap sadar.

Keesokan harinya aku bercerita kepemilik warung kopi yang berada disekitar jalan angker.

Aku         : pak, tadi malam, kok gak buka
Pak Kopi : Aku buka iya mas, tapi cuma sampai jam 11
Aku         : lha kenapa pak, tadi malam aku habis diteror hantu
Pak Kopi : Dijalan angker itu?
Aku         : he'eh
Pak Kopi : Owalah, tadi malam, kami semua yang berada disini, mendengar suara tangisan cewek, makanya pada langsung pulang. Katanya jika ada suara tangisan, berarti si penunggu sedang mencari tumbal.

Aku berpikir sejenak, seandainya tadi malam ban motorku tidak bocor, apakah aku dan Jamroni akan menjadi tumbal, karena otomatis aku dakan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
Tunggu